• smpislamterpadualkhairaat@gmail.com
  • 0921 - 3115532
  • Pencarian

AKU KAMU DAN KARYA KITA

Bastara’s long struggle

 

Anugrah Ilahi Rahma

Prolog:

“Di tengah riuk suara orang-orang di sekitarnya dengan angin yang berhembus lembut, “Bastara Alagavaro” seorang anak laki-laki dari SMP Pelita yang dikenal sebagai siswa bodoh, pendiam dan aneh, kini berdiri di depan gedung megah berwarna putih bagai tulang yang memantulkan cahaya terakhir matahari, juga di atas pintu kaca tertulis huruf-huruf perak yang besar (HOSPITAL GAV). Bastara menatap tulisan itu dengan lama diikuti rasa bangga kepada dirinya sendiri, seolah olah huruf-huruf yang terpampang jelas menjadi saksi bisu atas setiap detik, menit, jam yang Bastara keluarkan meski harus mendapatkan luka di masa lalu yang mungkin takkan pernah bisa untuk di hilangkan dengan kata maaf saja dari orang-orang masa lalunya”

Pagi itu, di lorong koridor suara tawa siswa - siswi menggema keras, beribu ribu ejekan dan cacian mereka ucapkan kepada Bastara yang sedang berjalan menuju ke kelasnya

“Bodoh !!”

“Hei bodoh, apakah kau bisu ?”

“Sudahlah, hei mengapa kalian membuang-buang waktu untuk orang seperti dia ?”

“Lagi pula, dia adalah anak yang aneh, buruk rupa dan bodoh jangan berbicara dengannya lagi... Dia tuli tidak akan bisa mendengar apa yang kalian katakan teman, jadi jangan membuang-buang energi berbicara kepada anak kekurangan seperti dia”

Setelah kalimat terakhir meluncur dari salah satu bibir seorang siswa yang berada di antara kerumunan itu, sejenak hening seolah waktu berhenti untuk sesaat.

Namun kemudian, tawa pecah nyaring dari parah siswa siswi mengalun dari sudut ke suatu sudut menelusuri dinding koridor, suara tawa mereka menggema, meninggalkan jejak riang yang berlalu.

Bastara berjalan dengan angkuh tidak sedikit pun menundukkan kepala walau banyak yang menertawakan dirinya, seakan akan kalimat-kalimat yang mereka katakan tadi adalah angin yang berhembusan baginya. Walau kenyataan kalimat-kalimat yang mereka lontarkan kepada ia terus terputar jelas di dinding kepalanya dan menjadi luka di dalam hidupnya yang tak akan pernah sembuh.

Saat sampai di kelas Bastara langsung mengeluarkan satu buku, juga satu alat tulis, kemudian ia mengeluarkan handphone dari saku lalu mempelajari sebuah rumus kimia bahkan mencatat semua rumusnya.

Bastara mencoba untuk tidak memikirkan apa yang mereka ucapkan kepadanya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak mengeluarkan tetesan bening dari matanya.

 

Ia mengambil nafas panjang membiarkan udara memenuhi dadanya yang saat ini sedang sesak. Lalu perlahan menghembuskannya seolah ingin melepaskan segalanya yang membuat hatinya sakit.

Setelah beberapa saat Bastara menenangkan hatinya, tak lama dari itu, seorang guru masuk ke dalam kelas mereka.

“Selamat pagi anak-anak” ucap guru yang berdiri di depan itu.

“PAGI JUGA BUK !!” ujar mereka semua kecuali Bastara yang hanya diam sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.

“Baiklah, silakan kumpulkan tugas yang saya berikan kepada kalian minggu lalu”

“Baik buk” jawab mereka semua lalu satu persatu dari mereka menuju ke meja guru lalu menyerahkan tugas yang telah mereka kerjakan namun, berbeda dengan Bastara ia hanya diam di tempat sambil menatap murid-murid yang memberikan tugas mereka.

Hingga,             “Apakah            semua             sudah mengumpulkannya??” Tanya guru itu ke mereka semua.

“Tidak tahu buk,” balas salah satu murid

“Baiklah biar ibu saja yang melihat siapa saja yang sudah mengumpulkan.” Ujar guru itu kemudian mulai melihat nama-nama siswa pada tumpukkan buku yang berada di atas meja yang tak terlalu besar itu.

Setelah beberapa menit memeriksa semua tumpukkan buku yang berada di atas meja tersebut, guru itu lalu menatap ke arah pojok kanan paling belakang tepatnya ke arah Bastara yang tengah melamun.

“Bastara Algavaro, kesinilah sebentar,” ujar guru itu kepada Bastara yang langsung berhasil mengalihkan semua mata yang sedari tadi sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing kini menatap ke arah Bastara.

Sesaat melihat Bastara yang sedikit pun tidak ada tanda-tanda untuk melangkah ke depan, guru itu berdiri dari tempatnya lalu berjalan menuju kepada Bastara yang hanya menatapnya dengan tatapan datar.

“Bastara, kenapa setiap kalimat yang keluar dari bibir saya sedari tadi seakan-akan hanyalah angin bagimu??” ujar guru itu.

“Maaf,” ucap lirih Bastara yang hanya bisa di dengar oleh guru itu dan dirinya, sesaat Bastara mengangkat pandangannya menatap guru itu dengan mata yang sudah berkaca kaca.

...

Seorang laki-laki bertubuh kekar dan tinggi, serta memiliki energi yang menenangkan juga tatapan yang begitu tenang dan lembut seolah-olah, dalam sorot tenang dan lembut itu menjadi saksi bisu atas semua yang sudah terjadi di masa lalu laki-laki tersebut, yang saat sedang berjalan dari ujung koridor dengan menggunakan sebuah jas putih dengan stethoscope yang tergantung di lehernya.

Dan terlihat jelas sebuah lambang yang penuh tanggung jawab besar dan papan nama lelaki yang sedang berjalan sendirian dari ujung koridor tersebut.

“BASTARA ALGAVARO” siswa yang di cap aneh, bodoh, pendiam, kekurangan sewaktu dulu.

“Dok !!, Dokter Algav” ucap seorang lelaki yang berlari dari belakang Bastara dengan tergesa-gesa.

“Dokter, sudahku bilang berkali-kali kalau dokter ingin makan di luar ajak lah aku,” ujar lelaki itu yang dikenal sebagai sahabat Bastara (Gavin).

“Apakah itu harus??” ucap Bastara dingin.

“Ya ampun kau masih bertanya sobatku hmm... kau tidak akan bisa makan dengan tenang jika tidak ada aku yang menemanimu bercerita. Bukankah itu nanti buruk karena kau akan terlihat kesepian saat sedang makan seorang saja.” Seru Gavin yang membuat langkah Bastara terhenti.

Sesaat Bastara menatap ke arah Gavin dengan tatapan bingung lalu bertanya “Memangnya aku saat makan sendirian terlihat seperti itu di matamu,” tanya Bastara kepada Gavin dengan ekspresi membingungkan.

“Tidak juga, namun kau akan terlihat seperti kelinci malam yang sedang kelaparan saat makan sendirian di mata wanita yang akan melihatmu makan nanti.”

“Hei kenapa begitu, apakah aku aneh ??” “Lalu ??”

“Bukan kau saja yang saat makan sendirian terlihat seperti anak kelaparan tetapi seluruh kaum Adam, aku juga bingung dengan pemikiran wanita-wanita kenapa mereka bisa menyimpulkan seperti itu.”

Bastara memutar malas matanya lalu berkata “kau membuang buang waktuku di sini dengan membahas pemikiran wanita yang begitu aneh.”

“Heii dok... tetapi itu yang sebenarnya aku katakan itulah pemikiran wanita saat sedang melihat lelaki makan sendirian sangat menyedihkan. Jadi sebaiknya kau membawaku untuk makan bersamamu. Ayoklah uangmu membutuhkan ku saat ini,” ucap Gavin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bastara.

“Bukan uangku yang membutuhkan kau, tetapi kau yang membutuhkan uangku. Cepatlah masuk ke dalam mobil aku tidak punya waktu terlalu banyak dalam dua detik kau tidak masuk aku akan pergi!” Saat mendengar ancaman Bastara, Gavin segera masuk ke dalam mobil.

Waktu demi waktu akhirnya Bastara dan Gavin sampai di sebuah restoran, tanpa berlama lama mereka berdua memutuskan untuk memesan nasi goreng seafood.

“Dok coba kau lihat wanita yang memakai dress berwarna pink itu, sangat indah bukan?” ucap Gavin yang mendapatkan satu pukulan di pundaknya dari Bastara.

“Apakah matamu ini tidak bisa sedikit saja untuk berhenti menatap sembarangan wanita, wanita ke berapa lagi ini yang kau bilang indah” tanya Bastara dengan ketus.

“Astaga! Kenapa kau bertanya begitu seolah aku ini adalah lelaki bajingan,” seru Gavin dengan memasang wajah yang sangat dramatis.

“Tidak perlu sedramatis itu ak-” kata Bastara yang terpotong karena makanan yang mereka pesan telah tiba.

“Permisi tuan, ini adalah makanan yang kalian pesan, nasi goreng seafood,” ujar pelayan itu lalu pergi.

Bastara dan Gavin pun bergegas makan karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka kerjakan lagi setelah ini. Namun saat sedang makan handphone Bastara berdering menandakan bahwa ada seseorang yang meneleponnya.

“ HAH!! APAKAH KAU SERIUS REY “ ucap Bastara

keras sehingga mendapatkan tabokan dari Gavin karena membuatnya dirinya yang sedang makan tersentak oleh suaranya.

“Baikalah, baiklah, aku akan segera ke sana, sekali lagi terima kasih,” ujar Bastar lalu mengambil dompetnya yang berada di atas meja kemudian segera melangkah keluar, tetapi tak sampai tiga langkah jasnya di tarik oleh Gavin.

“Kau mau ke mana? Apakah kau akan membiarkanku mencuci piring di sini karena tidak membayar makanan ini, dokter?” tanya Gavin. Tanpa membuang buang waktu Bastara langsung menyerahkan tiga lembar uang kepada sahabatnya yang cerewet itu.

“HEH     TUNGGU     KAU     SUNGGUH     KEJAM

ALGAVARO,” ucap Gavin

Dramatis lalu cepat-cepat membayar makanan yang mereka pesan setelah itu pergi menyusul Bastara yang sudah berjalan ke arah parkiran.

Kini mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju ke jalan Anggrek Mentari, Gavin tidak tahu mereka mau ke mana tetapi dirinya terlalu malas untuk bertanya saat ini, hingga Bastaralah yang memberitahu ke mana mereka akan pergi.

“Kau tau kita akan ke mana?” tanya Bastara.

“Tentu tidak, brengsek!! Dokter kau bahkan belum memberitahuku mau ke mana saat ini lalu secara tiba-tiba kau memberikan pertanyaan itu? Ujar Gavin panjang lebar.

“Hei...apakah kau tidak bisa sedikit lebih santai? Jujur saja... saat ini kau benar-benar seperti wanita yang sedang mendapatkan menstruasi,” tutur Bastara dengan tegas membuat mata Gavin melotot seolah-olah tidak percaya sahabatnya menyamakan ia dengan wanita yang sedang mendapatkan menstruasi.

“Kau serius mengataiku seperti itu, Jamal?”

“Ya, dan jamal siapa aku tidak mengenalnya, aku rasa selain kau persis seperti wanita yang sedang mendapatkan menstruasi kau juga suka menyebut-nyebutkan nama orang dengan sembarangan contohnya Jamal, Anto, Yanto, dan masih banyak lagi,” seru Bastara membuat Gavin bertepuk tangan sambil menatapnya.

Seiringnya waktu mereka berdua habiskan dengan beradu mulut hingga tanpa sadar bahwa mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Tentu saja tak mau membuang-buang waktu lagi Bastara segera memarkirkan mobilnya di depan gedung yang megah berwarna putih serta cukup banyak di kelilingi masyarakat.

Mereka berdua turun dari mobil dan langsung mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat yang berada di sana.

Prok, prok, prok.

Tepuk tangan riuh membuat Bastara menatap dengan dalam ke seluruh masyarakat yang berdiri di depannya, setelah itu ia menatap ke gedung yang megah berwarna putih.

“Dokter Algav” ucap seorang lelaki yang langsung memeluk Bastara (Rey).

“Rey, terima kasih banyak,” ucap Bastara pelan, sangat pelan, hingga tak sadar tetesan bening jatuh dari matanya.

“Sudah, sudah, untuk apa kau menangis” Ujar Rey sambil menatap Bastara. Begitu pun sebaliknya 

hingga akhirnya mereka tertawa bersama tanpa sebuah alasan.

“Ada apa ini aku tidak mengerti “ tanya Gavin kepada dua orang lelaki itu.

“Kau ingat kalau dulu aku pernah berjanji akan membangun rumah sakitku sendiri” kata Bastara sambil menatap gedung megah yang berdiri tegak di hadapan mereka, “Aku berhasil membuatnya, aku berhasil.”

Gavin melotot tak percaya sejenak ia menatap ke arah gedung megah berwarna putih dan menatap huruf-huruf yang terpampang jelas “HOSPITAL GAV” kemudian beralih menatap Bastara.

“WAHAHA WHAHHAH BASTARA ALGAVARO INI BENAR BENAR RESMI MILIKMU?” tanya Gavin

dengan mata berbinar dan penuh semangat “Hmm”

Tiba-tiba Gavin melompat ke Bastara dengan semangat sehingga membuat tubuh Bastara tidak seimbang sehingga terjatuh, suara tawa dari kerumunan itu terdengar begitu keras karena baru saja melihat reaksi Gavin yang sekaget itu.

 “Ada apa denganmu Jin mana lagi yang merasuki mu,” ucap Bastara sehingga membuat tawa semakin terdengar.

“Tidak ada, Dokk aku bangga dengan semua usaha mu selama ini,” ucap Gavin serius.

Bastara menatap Gavin kemudian tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu “Ini semua juga karenamu lah aku bisa sampai di titik ini”

“Tentu tidak, ini usahamu sendiri aku hanya membantu mengingatkanmu dan mencoba mengautkanmu saat kau sedang rapuh. Jangan ucapkan Terima kasih kepadaku Dokter Bastara Algavaro yang terhormat kalau tidak aku kan marah kepadamu dan akan menikahkanmu dengan janda nanti.” Canda Gavin yang membuat Bastara tertawa keras sehingga kerumunan orang-orang yang berada di sana menjadi memperhatikan mereka

“Tuan, tunggu apa lagi ayok buka rumah sakitnya secara resmi,” ucap salah satu orang yang berada di kerumunan itu yang langsung diiyakan oleh Bastara.

“Pertama-tama saya mengucapkan Terima kasih kepada kedua orang tua saya karena telah mendukung apa yang saya impikan sewaktu kecil, meski sekarang mereka tidak bisa menyaksikan semua yang saya lakukan saat ini. Saya yakin, kedua orang tua saya pasti bangga dengan saya dari atas sana.

Dengan mengucapkan rasa syukur serta terima kasih sebanyak banyaknya kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah diberikan kepadaku dan untuk semua bahagia ini setelah luka dari mas lalu, tepat pukul sepuluh pagi saya Bastara Algavaro selaku pemilik resmi dari gedung yang megah ini menyatakan bahwa HOSPITAL GAV resmi di bukan dan siap melayani masyarakat.”

Setelah kalimat yang diucapkan oleh Bastara, terdengar suara tepuk tangan bergema. Bastara menyaksikan itu semua dengan rasa bahagia, bangga, dan terharu.

Dirinya melihat ke sekitarnya sungguh tenang, damai, sangat berbeda dengan yang dulu. Lalu tak lama, Bastara teringat akan seseorang yang menjadi salah satu penyemangatnya dulu.

 “Andai kau ada, dan lihatlah aku berhasil seperti yang kau ucapkan dulu... Di mana pun kau berada aku harap kau akan mengingatku lagi sebagai Bastara yang dulu,” ucapnya pelan sehingga hanya dirinyalah yang bisa mendengar sendiri. Lalu, otaknya kembali mengingat perkataan seseorang.

“Maaf” ucap lirih Bastara yang hanya bisa di dengar oleh guru itu dan dirinya, sesaat Bastara mengangkat pandangannya menatap guru itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Guru itu menarik napas dalam-dalam lalu berkata “Ikutlah dengan saya. Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan kepadamu.” Setelah mengucapkan itu guru itu meraih tangan Bastara lalu berjalan keluar dari dalam kelas, tak memedulikan semua siswa siswi yang tengah menatap dengan penasaran.

“Bastara angkat kepalamu jangan tundukkan, saya tidak menyukainya.” Guru itu membuat Bastara mendongak.

“Kau ini kenapa nak?” tanya guru dengan suara yang tak seperti biasanya, lembut sangat lembut.

“Saya tahu Bastara, kau sedang ada masalah. Cerita, saya berbicara seperti ini karena saya peduli sama kamu. Ssaya khawatir melihat kamu yang hanya diam saja di situasi apa pun itu... Padahal kamu pintar. Kenapa memendam semua bakatmu ini dengan cara diam Bastara,” ujar guru itu dengan tatapan lembut. Namun guru itu tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Bastara.

“Bastara kau ini kenapa,” ujar guru itu masih dengan menatap lembut Bastara

Tetapi, lagi-lagi Bastara hanya menggelekkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan guru itu.

“Saya mau memberitahu kepadamu tentang suatu hal yang kau tidak tahu dari saat kau di lahirkan hingga saat ini.” Kata guru itu dengan serius kepada Bastara.

“Apakah kau tidak ingin tahu ??” tanya guru itu yang mendapatkan gelengan kepala Bastara sebagai jawaban bahwa ia tidak mau, “ingat bahwa ia tidak mau”

“Mengenai kematian ibumu” saat empat kata guru itu meluncur, Bastara langsung menatap guru itu seolah-olah bertanya “Kenapa dengan ibuku”

“Kematian ibumu dulu saat kau lahir bukanlah karena kau lahir di dunia ini, bukan..” ujar guru.

“Lalu alasan apa ibuku meninggalkanku dan ayah jika bukan akulah alasannya ??!!” ujar Bastara dengan tegas

“Kau tenang...”

Bastara tersadar dengan sikapnya beberapa menit terhadap guru di hadapannya ini ia merasa bersalah, kemudian memutuskan untuk mengatakan maaf kepada guru itu

“Maaf, aku tidak sopan, aku hanya terlalu emosional mengenai pembahasan ibuku,” ucapnya dengan lirih.

“Tidak apa-apa, sekarang dengarkanlah aku”

“Kematian ibumu terjadi karena ulah pamanmu yang membenci kakakku (ibu Bastara) kau lahir bersamaan dengan saudaramu yang bernama “Justin”. Dulu kakek Arvel (kakek Bastara) mengatakan jika ibumu melahirkan anak perempuan maka semua harta, perusahaan Dynamics, dan masih banyak lagi harta yang lain, tidak akan diwariskan kepada anak perempuan. Tetapi jika ibumu melahirkan anak laki-laki kakek Arvel akan memberikan seluruh hartanya kepada cucu pertama keluarga Pradipta, dan kaulah cucu pertama sekaligus anak pertama dari keluarga Pradipta. Karena pamanmu mendapatkan kabar bahwa kau adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan...”

Guru itu berhenti sebentar. Ia tak mampu menahan air matanya untuk tidak jatuh.

Bastara yang melihat reaksi guru itu pun semakin bingung dari mana guru itu tahu soal ini dan, kenapa reaksinya begitu menyakitkan seakan akan luka yang mereka berdua rasakan saat ini persis.

“Lanjutkan saja” ucap Bastara dengan mengelus punggung tangan guru itu dengan begitu lembut sehingga membuat gurunya semakin ingin menangis

“P-pamanmu mencampurkan racun ke dalam minuman ibumu. Ibu tidak tahu kemudian meminumnya tanpa berpikir negatif sedikit pun. Malam itu kondisi ibu kritis dan dokter berkata kepada ayahmu bahwa ibumu lebih memilih untuk menyelamatkan nyawamu dari pada nyawanya sendiri... Makanya ayahmu bisa semarah dan sebenci itu kepadamu... Saya minta maaf karena telah menyembunyikan fakta sebesar ini kepadamu dan membuat hidup segelap ini, Bastara,” kata guru itu lalu memeluk Bastara yang tak bisa berkata kata lagi dan hanya mampu mengeluarkan cairan bening dari matanya.

‘K-kau ini siapa...ke-kenapa kau bisa tau seakan akan kau adalah bagian dariku” ucap Bastara terbata bata.

“Saya adalah adik ibumu dan kau adalah keponakanku,” ujar guru itu sambil mengelus-elus rambut Bastara.

“Maaf saya terlambat memberitahukan hal ini kepada ayahmu. Saya juga baru mengetahui tentang kau dari orangku, dan kemarin... saya juga tau bahwa kak Marza (ayah Bastara) sudah tidak ada. Saya minta maaf... Bastara, keluarga Pradipta telah hancur dan terpisah pisah, dan kau keponakan pertama yang saya berhasil menemukanmu selama ini,” tutur guru itu dengan semakin erat memeluk Bastara yang sedang menangis juga.

***

“Dok, apakah kau membutuhkan seorang wanita?” canda Gavin sehingga membuat Bastara terkaget dan kembali tersadar.

“Gila!” ucap Bastara yang langsung membuat sahabatnya itu tertawa.

Sejenak... Bastara menatap ke gedung megah berwarna putih itu, setelah itu menatap jasnya, tatapan seolah olah adalah tatapan yang begitu bangga terhadap dirinya lalu mengingat semua yang ia lewati sendirian hingga sampai di titik ini. Ia tersenyum penuh hangat dan mengucapkan “Terima kasih untuk semuanya yang sudah membaca perjalananku”

TAMAT

 Cerpen ke 2

Petualangan tak terlupakan

  1. Denovan Rayyan Affandy

 

Hari itu, di pagi hari yang cerah hiduplah seorang lelaki bernama Rayan, ia adalah anak laki-laki yang sangat ceria, dengan rasa penasaran yang tinggi. Rayan mempunyai mimpi untuk menjelajahi dunia fantasi, Rayan jarang berinteraksi dengan keluarga dan teman temannya, dia menghabiskan waktu di rumah pohonnya sendirian.

Suatu hari, Rayan memutuskan untuk membersihkan rumah pohonnya. Awalnya, dia hanya memindahkan tikar di lantai dan merapikan kursi serta lemari. Namun, saat mengangkat lemari, dia melihat sesuatu yang aneh. Matanya berbinar saat menatap sebuah portal dengan cahaya misterius yang berkilat seperti listrik. Rayan hampir mengira itu hanya halusinasi. Dia mengucek matanya dengan keras, tapi pemandangan itu tetap nyata. Terpikat oleh rasa penasaran, ia mendekati portal tersebut. Tiba-tiba, portal itu menyedot semua yang ada di rumah pohonnya dengan kuat, termasuk Rayan. Dia sempat berpegangan pada tepi portal, tapi akhirnya cahaya itu menariknya masuk dan membawanya entah ke mana.

Beberapa saat kemudian, Rayan perlahan membuka matanya. Dia masih dalam keadaan tergeletak, semuanya terasa berbeda dari sebelumnya. Udara yang tiba-tiba terasa segar, bau tanah yang tercium masih asli, dan terdengar suara-suara aliran air di sekitarnya, diikuti dengan raungan hewan yang tak pernah ia dengar sebelumnya, Rayan perlahan bangkit dari posisinya, Dia melihat sekitar, hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi ke atas,  dengan  lampu-lampu  bercahaya  yang menghiasi pepohonan itu. Tiba-tiba, seseorang memanggilnya.

“Selamat datang di dunia fantasi Rayan, di sini adalah dunia tersembunyi yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang benar-benar bermimpi untuk melihatnya, termasuk kau, Rayan.” seru kurcaci menyambut Rayan.

Kurcaci itu mengajak Rayan yang terlihat kebingungan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia belum pernah mengalami hal seperti ini, kemudian ia mengiyakan ajakan itu dan Kurcaci mengajaknya naik ke punggung Makhluk besar bersayap yang bisa terbang, lalu mereka menjelajahi isi dunia itu.

Di atas sana, ia sekali lagi disuguhkan dengan keindahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, langit terlihat sangat biru bak samudra terbalik, benda putih seperti kapas itu alias awan menggumpal memenuhi kebiruan langit, beberapa hewan asing terbang menghiasi, Rayan merasa takjub melihat ini dengan mata telanjang karena di dunia sebelumnya ia tak akan menemukan pemandangan seperti ini meskipun ia selalu bermimpi untuk bisa hidup di tempat seperti seindah ini.

 

Kurcaci berkata padanya, “Setelah ini, aku akan memberimu dua pilihan dan kau harus memikirkannya dengan baik”

Rayan yang mendengarnya merasa kebingungan dan penasaran, namun kembali berdamai dengan suasana dan menikmati perjalanan itu kembali.

Kepakkan sayap makhluk yang ditunggangi mereka perlahan menurunkan kecepatannya yang tandanya mereka akan turun. Di bawah sana, Rayan melihat istana yang amat besar dan megah, tempat di mana kurcaci akan memberikannya pilihan.

“Rayan, sudah saat kau harus menentukan nasibmu kedepannya, aku akan memberikanmu 2 pilihan yang menentukan kehidupanmu selanjutnya. Apa kau ingin tinggal di sini dan menjadi bagian dari dunia ini, atau kau mau kembali lagi ke duniamu, dan semua ingatanmu tentang dunia ini akan hilang.”

Rayan terdiam sebentar memikirkan apa yang akan dia pilih, jika ia memilih tinggal di dunia ini, dia akan merasakan keindahannya selamanya, tapi disisi lain dia juga merindukan dan mengkhawatirkan keluarganya. Ini terasa seperti pilihan terberat di hidupnya, namun akhirnya ia menemukan jawaban itu

Rayan menarik nafas dalam “Aku memilih untuk kembali ke dunia dan menghapus semua ingatanku tentang dunia ini”

Kurcaci menjawab “Baiklah, tapi aku ingin bertanya, kenapa kau memilih untuk pergi kembali ke duniamu, bukankah kau adalah seseorang yang sangat ingin dan takjub pada dunia fantasi, bukankah di duniamu sebelumnya sangat membosankan?”

“Ya, kau benar. Dunia fantasi ini menawarkan keindahan dan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya, tapi di duniaku, ada banyak orang yang kusayang dan aku cintai. Sudah seharusnya aku memilih keluarga bersama mereka.” Rayyan berucap seraya mengangguk mantap.

“Baiklah, sepertinya keputusanmu sudah bulat. Kalau begitu, seluruh ingatanmu tentang dunia ini akan dihapus sepenuhnya dan kau tak akan bisa kembali, masuklah ke portal ini untuk pulang ke rumahmu, berkumpul bersama orang-orang yang kau sayangi.” Kurcaci memimpin langkah Rayyan untuk menuju portal.

Di samping Kurcaci, terbuka sebuah portal yang sama seperti saat Rayan pertama kali masuk ke sini. Seperti kilatan listrik yang sangat terang dan siap menyerap apa saja, perlahan Rayan melangkah melalui portal itu, ia menengok ke belakang untuk terakhir kalinya melambaikan tangan tanda perpisahan dengan kurcaci dan makhluk langit.

Kemudian ia masuk ke dalam portal dan menghilang, tentu saja maksudnya menghilang kembali pulang ke dunianya.

TAMAT

 Cerpen ke 3

Surat yang tak pernah sampai

  1. Denovan Rayyan Affandy

Di antara riuh yang berdesak, cahayamu adalah satu-satunya keheningan yang memikat. Dialah Kak Rafka, seseorang yang ku kagumi sejak awal mata kami bertemu. Sejak detik itu, ia bukan lagi sekedar nama, melainkan seseorang yang memberiku ketenangan saat aku menatap matanya yang teduh.

Rafka Akasa Bimantara:

Matanya yang teduh bagaikan palet coklat tua yang selalu menyembunyikan kehangatan. Di bawah alisnya yang tegas, ada sepasang sorot mata yang tak pernah terburu-buru, kontras sekali dengan rambutnya yang sedikit berantakan, diikuti dengan postur tubuhnya yang gagah dan tegap.

Namun, semua kekaguman itu milik Nararya Shakti Putri. Seorang pustakawati yang gemar membaca buku, penampilannya sangat sederhana, tapi cukup untuk membuat sekitarnya terpesona.

Pertemuan Pertama:

Pagi itu, Nara sedang berjalan di ujung taman sembari memegang buku. Telinganya ditutup oleh earphone yang membisukan suara keramaian, matanya tertuju pada buku hingga dia tak lagi memperdulikan ada apa di sekitarnya.

Tanpa sadar bahwa sebenarnya di depannya ada lelaki tinggi yang bisa kapan saja menabraknya

BRAKK!! Nara menabrak laki-laki di depannya.

"Ma-maafin aku ka, aku ga sengaja!" Nara tergagap, dia segera membungkuk sedikit sambil membereskan buku-buku yang tergeletak di lantai marmer.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nara, menilai sejenak. Kemudian, dengan gerakan yang tenang dan elegan, dia ikut jongkok buat bantuin Nara ambil buku-bukunya yang berserakan.

"Ngga masalah," jawabnya dengan suara yang berat dan dalam, membuat jantung Nara berdebar lebih cepat. Jari-jari mereka sempat bersentuhan saat mengambil salah satu buku, dan sentuhan singkat itu terasa seperti hujan cinta yang bertubi-tubi.

"Lain kali hati-hati kalo jalan," tambahnya sambil menyerahkan tumpukan buku yang kini sudah rapi kembali ke tangan Nara. Ia berdiri tegak, tingginya membuat Nara harus melihat ke atas lagi.

"Aku buru-buru. Permisi."

Lelaki itu segera melangkah pergi, langkah kakinya meninggalkan Nara yang masih mematung di tempat. Nara menyesal tidak sempat menanyakan siapa nama lelaki itu

Sudah sehari sejak kejadian tersebut, Nara masih memikirkan, siapa sosok lelaki tampan dan penuh kharisma itu? Mengapa dia membuatku berpikir dan dipenuhi rasa penasaran seperti ini.

Nara berbaring di tempat tidurnya, dia mengambil HP-nya di nakas di samping kasurnya, “udah lama nih ga buka twitter, mana ada notif banyak lagi, coba buka ah!”

Nara melihat lihat apa saja yang ada di aplikasi burung biru ini, seperti biasa, isinya hanya foto foto temannya dan keseharian mereka.

“Membosankan sekali, mengapa banyak orang yang masih menggunakan aplikasi ini?”

Saat Nara ingin keluar dari aplikasi itu, tiba tiba matanya tertuju pada satu postingan yang membuat dia menahan sebentar.

@.rfkaastrophile : “udah lama bgt gw ga buka apk ini, ada gebrakan apa ges? ”

  “Siapa ini, Rafka? ini kan anak kelas 3c ya, coba ku lihat deh akunnya” Nara membatin, dia penasaran dengan sosok Rafka, tanpa dia ketahui bahwa rafka adalah sosok lelaki yang dicarinya sejak kemarin.

Terlihat foto Rafka yang sedang berfoto mirror dengan hoodie biru gelap dan celana hitamnya. “WHAT, INI ORANG KAN YANG KEMARIN?!”

Nara kaget bukan main, ternyata selama ini orang yang dia cari adalah kakak kelasnya sendiri, kalau begini dia tidak perlu mencari lagi siapa sebenarnya lelaki itu

“Akhirnya gue nemuin ini orang, jadi ada penyemangat sekolah deh gue! “

Nara membayangkan hari harinya ke depannya, dia akan terus melihat wajah tampan milik Rafka dengan bebas, dia bisa mencari kesempatan untuk mendekati rafka.

*** ‘Hoaaaammm’

Nara membuka hari ini dengan menguap dan mengumpulkan nyawanya, sinar matahari memasuki jendela kamarnya, Nara kemudian turun dari tempat tidur, dinginnya lantai kamar yang dipijak membuat

Nara tersadarkan untuk segera mengambil handuk dan mandi.

Sampailah di gerbang sekolah, pagar hitam yang besar dan kokoh terbuka saat langkah kakinya masuk ke dalam, Nara berjalan ke arah koridor sembari memegang buku untuk menaruh barang barangnya.

Nara menutup lokernya dan mengunci nya, tapi belum sempat Nara melanjutkan bacaan nya, tiba-tiba Di ujung koridor, ada sosok lelaki yang tak asing bagi Nara, firasatnya mengatakan ini adalah sosok yangku tunggu-tunggu untuk datang. Dan benar saja, di ujung sana terlihat Rafka Akasa Bimantara yang Sedang berjalan ke arah kelas dengan langkah yang pelan namun tetap elegan.

“itu Rafkaaa, ahh bisa gila gue”

Nara cengengesan seperti orang gila, dia tidak pernah merasa seterpukau ini ketika melihat seseorang

Nara hanya bisa menatap punggung Rafka yang perlahan meninggalkan koridor, Nara pun berjalan ke kelas dengan buku yang masih ia genggam di tangan dengan hati yang masih berbunga-bunga.

*** KRING!!!!!

Bel telah berbunyi, menandakan waktunya istirahat telah dimulai, seluruh kelas menghentikan aktivitas mengajar mereka, para siswa berhamburan ke kantin untuk mengantre membeli makanan.

Saat siswa-siswa lain mengantre untuk makan, Nara justru malah pergi ke perpustakaan, entah kenapa dia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku daripada di kantin hanya untuk memakan makanan kantin yang sama setiap harinya.

Nara berhenti di salah satu rak buku, matanya tertuju pada satu buku yang berada cukup tinggi di bagian paling atas, dengan tinggi seperti itu, tangannya tentu saja tak mungkin sampai, jari jemari Nara hanya tinggal beberapa senti dari buku itu, tapi akhirnya dia menyerah

Sebelum dia menurunkan kakinya yang menjinjit, tiba-tiba sepasang tangan yang lebih besar mengambil buku itu dengan lembut dan Menyerahkannya kepada Nara.

Nara menoleh kebelakang untuk mengucapkan terimakasih, tapi tak disangka-sangka, sosok yang menolongnya ini adalah Rafka.

“Ga nyampe ya, ini” ucap Rafka.

Matanya terbelalak, Wajahnya memanas, semua ini terasa seperti mimpi, Nara ingin berbicara tapi rasa shock masih menguasainya, tapi akhirnya mulutnya berbicara

“M-makasih kak” balas Nara tergagap.

“Ah, kamu yang waktu itu ya di jalan, nama ku Rafka, nama kamu siapa? “

Mata mereka berdua bertemu, Nara menatap mata Rafka, sangat teduh, matanya berbinar seperti bintang di malam hari, ini adalah pemandangan yang sangat indah yang Nara pernah liat.

“Iya kak aku yang waktu itu, Nama aku Nara, Nararya Shakti Putri, makasih ka udah nolongin aku yang ke-2 kalinya” Seru Nara.

“Nggak masalah Nara, yang kemarin jadikan pelajaran ya, kalau jalan harus hati hati, untuk yang kali ini, anggap saja tanda perkenalan kita, aku duluan ya, bye Nara-” Balas Rafka

“Siap kak, bye kak Rafkaaaa-!” Balas Nara kembali

***

Ini sudah jam 2 siang, menandakan waktunya pulang. Nara berjalan di area parkiran, dia ingin keluar gerbang untuk menunggu jemputannya, tiba tiba-

“Vrooom Vrooom-!” suara Klakson motor berbunyi kencang, Nara menoleh kebelakang

“Nara, sini sama kaka aja, Rumah kamu dimana Nara? “ teriak Rafka dari dalam helm hitam nya

Jantung Nara berdebar kencang, Muka nya kembali memerah, seorang Rafka menawarkanku untuk pulang bersamanya?

“Eh, gausah ka, Nara bisa sendiri, Lagian rumah Nara jauh, di jalan mentari disana” Jawab Nara

“kata siapa jauh, kebetulan dekat sama rumah kaka, kamu yakin gamau? Lagian ini udah mulai sore juga” Teriak Rafka lagi

Nara berpikir sebentar, bisa saja dia pulang dengan Rafka, sekalian mencari kesempatan untuk mendekati Rafka, pikirnya

“Yaudah deh kak, Makasih Ya sebelumnya, kaka udah bantu aku berkali-kali”

Nara berjalan pelan ke arah motor Rafka berada, Tangan Rafka dengan lembut memberikan helm nya pada tangan Nara, Saat Nara ingin menggunakannya sendiri,

“sini, biar kaka pake in aja,” tangan Rafka dengan lembut memakaikan Nara helm itu, jari jemari nya menyentuh rambut Nara.

Sekali lagi, Nara merasakan hatinya berbunga-bunga lagi, ingin rasanya Dia melompat dan berteriak kesetanan seperti orang gila.

Akhirnya kaki Nara naik ke jok motor rafka, Dia dengan hati hati mencari posisi duduk yang benar. Rafka membawa motor dengan pelan dan hati hati, dia tidak ingin melukai Nara, sudah seharusnya begitu, Apalagi Nara dan dia Baru saja berkenalan, Perjalanan hanya diisi keheningan, sampai akhirnya sampai di depan gerbang rumah Nara,

“udah ka, disini aja, makasih ya udah nganterin aku sampe sini”

Nara turun perlahan dari motor Rafka, dia membuka helmnya perlahan, memberikannya pada Rafka,

“Ga apa apa, lainkali kamu kalau mau pulang sama kaka aja, dah Nara, Aku duluan”

Motor Rafka meninggalkan Halaman rumah Nara, Nara hanya menunggu di depan sana sampai motor Rafka menghilangkan suara mesin nya,

Nara kemudian melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan hati yang berbunga bunga, dan dengan kejadian hari ini, Nara semakin yakin bahwa dia mempunyai kesempatan untuk mendekati Rafka.

Keesokan Harinya

Nara masuk ke dalam kelas, dengan harapan baru yang ada di dalam hatinya, kejadian kemarin membuatnya semakin yakin bahwa pasti ada harapan untuk menggapai pujaan hati nya itu, Nara duduk di kursi menghadap meja belajarnya, setelah kejadian waktu itu, Rasa cinta Nara kepada rafka semakin besar, Nara telah merencanakan banyak hal yang akan ia lakukan untuk mendekati rafka,

Salah satu rencana itu adalah, menyatakan perasaanya dengan surat, terdengar bodoh, tapi Nara melakukan ini agar bisa mengutarakan perasaanya kepada Rafka se segera mungkin.

“Semoga dengan surat ini, kak Rafka bisa menerima Cinta ku,”

Nara mengambil selembar kertas, lalu mulai menulisnya, dia menulis ini dengan penuh harapan agar Rafka menerima perasaannya

From Nararya.

Kak rafka, sejak pertama kali mata kita bertemu, aku merasakan perasaan yang aneh, hatiku berdebar kencang saat melihatmu,entah pesona apa yang kau punya, meeting u was like my best part of life, aku benar-benar mencintai mu, aku harap dengan surat ini, kau bisa menerima perasaanku dengan sepenuh hatimu, entah aku akan diterima atau ditolak, makasih telah singgah di hatiku, memberi ku harapan dan rasa cinta yang tak pernah ku rasakan sebelumnya,

I love you, kak Rafka.

To Rafka

Nara berdiri di area koridor, matanya menyusuri setiap loker, mencari nama loker yang ia akan kasih, akhirnya matanya tertuju pada loker diujung sana, dia memegang surat yang telah ditulis dengan hati penuh harapan. Dia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang Karena rasa gugup, Surat ini adalah pengakuan perasaannya, sesuatu yang dia simpan cukup lama. Namun, saat dia hendak menyelipkan surat ke dalam loker, Nara mendongak ke belakang, melihat Rafka berjalan pelan di koridor, bergandengan tangan dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Terlihat senyum lebar dari wanita itu saat menggenggam tangan Rafka, diikuti dengan Rafka yang mengusap kepala wanita itu dengan lembut, mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.

Tangan Nara mematung di udara, matanya terpaku pada pemandangan di depan. Dia merasa seperti telah ditampar keras, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Pandangan nya perlahan kabur, sejenak saat air matanya mulai jatuh. Dengan hati yang berat, Nara memasukkan surat itu kembali ke dalam sakunya. Dia menahan surat itu. Tanpa suara, dia

berbalik dan berjalan pergi dari sana, berusaha menahan tangis yang sudah di ujung. Langkahnya semakin cepat, seolah ingin menjauhkan diri dari rasa sakit yang baru saja ia lihat dengan mata kepala nya sendiri.

“Kenapa ini bisa terjadi. Kenapa? ” bisiknya lirih sambil menundukkan kepala, air matanya mengalir deras membasahi pipinya, dia duduk di ujung koridor sendirian, dia mengeluarkan surat itu dari sakunya, Nara merobek surat itu dengan kasar, air matanya terus mengalir sembari merobek kertas itu, kini surat itu tidak akan pernah tersampaikan. Nara berdiri perlahan dari sana, pergi meninggalkan koridor dengan hati yang terluka.

Nara berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan pernah melihat wajah Rafka lagi. Ia enggan mengingatnya dan menegaskan, seumur hidupnya, nama itu akan dihapus dari seluruh ingatannya.

Kini, Nara menginjakkan kaki di rumahnya. Lengannya terasa lemas tak bertenaga, sementara wajahnya kusut seperti kertas yang diremas.

Langkah kakinya menapaki kamar. Pintu terbuka, dan hawa dingin dari dalam langsung menusuk tubuh Nara. Ia terduduk di kasurnya, lalu perlahan membaringkan badan. Kejadian tadi benar-benar mengguncang hatinya, rasanya seperti ribuan pisau menusuk ke arahnya. Nara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan akhirnya terlelap dengan tenang.

“Kamu mengajarkanku apa itu arti cinta. Tapi kamu juga mengajarkanku arti kecewa. Kuharap takdir tak akan mempertemukan kita lagi, dan semoga kenanganmu menjadi api penyesalan yang tak pernah padam.”

(Nararya Shakti Putri)


 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
kegiatan ummi

Tahun pelajaran 2025, 2026 SMP IT Alkhairaat mulai penerapan metode ummi dalam pembelajaran Alquran. Ada 4 kelompok yang terdiri dari kelompok jilid 1  dengan guru pembimbing 

24/09/2025 08:25 WIB - Nikmawati S. Darota
kegiatan ummi

Tahun pelajaran 2025, 2026 SMP IT Alkhairaat mulai penerapan metode ummi dalam pembelajaran Alquran. Ada 4 kelompok yang terdiri dari kelompok jilid 1  dengan guru pembimbing 

24/09/2025 08:19 WIB - Nikmawati S. Darota
Kegiatan MPLS Siswa - siswi Angkatan 8 Periode 2025/2026

Alhamdulillah, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP IT Alkhairaat berjalan lancar pada 14–16 Juli 2025. Selama tiga hari, peserta MPLS mengikuti seluruh rangkaia

16/07/2025 14:45 WIB - Nikmawati S. Darota
Penilaian Akhir Semester Ganjil 2024/2025

SMP IT Alkhairaat melaksanakan penilaian akhir semester ganjil berbasis komputer selama 8 hari dari tanggal 28 November - 7 Desember 2024. Penilaian akhir ini dilaksanakan dengan siste

28/11/2024 07:30 WIB - Nikmawati S. Darota
Peringatan Hari Guru 25 November 2024

Program pertama Osis SMP IT Alkhairaat Kota Ternate Peringatan Hari Guru setiap tanggal 25 November 

25/11/2024 08:00 WIB - Nikmawati S. Darota
Pelantikan Pengurus OSIS 2024/2025

Pelantikan kepengurusan OSIS 2024/2025 sekaligus lepas jabatan kepengurusan OSIS 2023/2024 Senin, 18 November 2024

18/11/2024 08:00 WIB - Nikmawati S. Darota
Project P5 Suara Demokrasi Pemilihan Ketua OSIS SMP IT Alkhairaat

Pelaksanaa Pemilihan Ketua OSIS SMP IT Alkhairaat Sabtu, 9 November 2024 yang terdiri dari kepanitiaan KPKO (Komisi Pemilihan Ketua OSIS) dan kepanitiaan turunannya dengan calon kandida

09/11/2024 09:00 WIB - Nikmawati S. Darota
Penilaian Tengah Semester Ganjil 2024/2025

Pelaksanaan Penilaian Tengah Semester Ganjil di mulai tanggal 7 - 12 Oktober 2024 berbasis kertas

07/10/2024 07:30 WIB - Nikmawati S. Darota
SMP IT Alkhairaat Kota Ternate Memperingati Maulid Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam

SMP IT Alkhairaat Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pada Sabtu, 21 September 2024 Kegiatan ini melibatkan penuh siswa-siswi dalam pelaksanaannya. Mulai da

25/09/2024 12:42 WIB - Nikmawati S. Darota
Upacara Bendera

Upacara Bendera Senin, 5 Agustus 2024. Petugas Upacara Kelas VIII Al Latif Pembina Ibu Nur Dahlan, S.Pd

12/08/2024 10:30 WIB - Nikmawati S. Darota